Jokowi, Mantan Presiden tanpa Kemuliaan, Kehormatan dan Penghormatan

- Rabu, 26 Februari 2025 | 07:05 WIB
Jokowi, Mantan Presiden tanpa Kemuliaan, Kehormatan dan Penghormatan


Penobatan Jokowi oleh sebuah lembaga Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) sebagai salah satu tokoh terkorup di dunia, tentu saja bukan tanpa dasar. Walaupun, seperti kebiasaannya, berita itu pasti akan dibantah karena kejahatan sudah disusun secara rapih seolah-olah Jokowi adalah orang yang bersih tanpa dosa.

Seperti biasanya, Jokowi mencoba membela diri dan bahkan akan terus dibela oleh para cucunguk pemuja dan penjilatnya.

Hampir dalam setiap kejahatannya Jokowi selalu mencoba untuk menutupinya dan berlagak sok bersih, baik yang berkaitan dengan latar belakang keluarganya, latar belakang pendidikannya, ijazah palsunya, kebohongannya, kecurangannya, penipuannya, kedzalimannya, KKN-nya, termasuk juga dalam hal korupsi dirinya dan keluarganya.

Bukan itu saja, Jokowi yang ditopang para oligarki taipan terus berusaha memutarbalikkan fakta kebenaran, menghancurkan sendi-sendi hukum dan moral, serta membungkam dan membasmi para pengkritik dan penegak kebenaran

Jokowi selalu hidup dalam kepalsuan. Kepalsuan telah menjadi jalan hidupnya. Hidup yang tanpa kehormatan, harga diri, kemuliaan, nilai-nilai, apalagi nilai-nilai ukhrawi.

Jokowi telah kehilangan jati diri dan rasa malu. Hidup tanpa mengindahkan aturan, hukum, tertib hidup, apalagi akhlak, moral dan etika.

Jokowi adalah orang yang telah menjadikan Hawa nafsu sebagai panduan hidup, bahkan mungkin telah menjadikan Hawa nafsunya sebagai Tuhan, sehingga nilai-nilai keimanan telah hilang sama sekali.

Jokowi itu orang yang sangat rakus, menghalalkan segala cara, mengambil hak orang lain dianggap biasa, dan menghabisi orang yang menjadi lawan dan penghalang kemauannya menjadi senjata. Tapi semua kejahatan ya belum bisa diadili karena semua lembaga penegak hukum sudah rusak dan tercemar.

Jokowi adalah orang yang telah merusak tatanan dan sendi-sendi bernegara, merusak hukum dan konstitusi demi kepentingan ambisi pribadi dan oligarki.

Jokowi adalah orang yang telah menyesatkan banyak orang-orang baik dan berintegritas dengan menyandera berbagai kasus yang dijebaknya sendiri, semata-mata hanya tidak mau ada orang yang mengganggu niat busuk kebejatannya.

Negeri yang telah merdeka dijadikan negeri terjajah. Hukum yang telah berjalan baik dijadikan sebagai alat kekuasaan. Nilai-nilai moral, etika dan budaya yang selama ini telah menjadi karakter bangsa diacak-acak dan diganti dengan budaya menjilat, menyuap, dan main belakang (ordal).

Dalam kurun waktu 10 tahun semuanya telah dihancurkan. Bahkan para penerusnya yang memegang jabatan di Pemerintahan baik yang berada di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif telah terkontaminasi menjadi bajingan-bajingan berdasi yang kerjanya hanya mementingkan diri sendiri dan beramai-ramai mencuri uang negara dan menjadi pengkhianat negara.

Paling tidak ada 10 kejahatan Jokowi yang telah merusak negara dan menyengsarakan rakyat dan harus segera diadili dan dijebloskan ke penjara :

Pertama, Membiarkan China menjajah Indonesia

Kedua, Membiarkan Warga China menggusur kamu pribumi

Ketiga, Membiarkan Dumber Daya Alam dikeruk hampir habis dan diangkut ke luar negeri tanpa kompensasi yang memadai

Keempat, Menjadi otak segala kejahatan besar di Indonesia

Kelima, Menjadi otak pembununuhan 6 laskar FPI di KM50

Keenam, Melumpuhkan semua lembaga Negara demi kepentingan pribadi, keluarga, dan oligarki taipan

Ketujuh, Merampas tanah-tanah rakyat dengan paksa demi kepentingan China

Kedelapan, Menjadikan Instirusi TNI dan Kepolisian sebagai jongos-jongos China

Kesembilan, Mengacak semua aturan hukum baik konstitusi, UUD 45, Undang-undang, peraturan Pemerintah, dan aturan hukum yang lain

Kesepuluh, Menjadikan rakyat sebagai obyek berbagai kedzaliman demi nemuaskan kepentingan para taipan

Masih layakkah seorang Jokowi diberi tempat di negeri ini, apalagi diberi kemuliaan dan penghormatan ? Sama sekali tidak. Jokowi adalah mantan Presiden tanpa Kemuliaan, Kehormatan, dan Penghormatan. Tempat yang layak bagi Jokowi adalah penjara bahkan sudah sangat layak dihukum mati

Bandung, 27 Sya’ban 1446

Oleh: Sholihin MS
Pemerhati Sosial dan Politik
______________________________________
Disclaimer: Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan MURIANETWORK.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi MURIANETWORK.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.


Komentar

Terpopuler

2

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

👁 5 Views