Politik “Ndasmu” ala Prabowo Subianto

- Jumat, 28 Februari 2025 | 07:05 WIB
Politik “Ndasmu” ala Prabowo Subianto


Respons seorang pemimpin terhadap kritik adalah cerminan dari karakter, nilai-nilai yang dipegang, serta bagaimana ia memahami perannya dalam demokrasi. Dalam konteks pernyataan “ndasmu” yang dilontarkan oleh Prabowo Subianto sebagai presiden, muncul perdebatan di masyarakat mengenai apakah kata tersebut pantas diucapkan oleh pemimpin tertinggi negara.

Dalam budaya Indonesia, khususnya dalam adat ketimuran, kesantunan dalam bertutur kata merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Pemimpin, sebagai figur publik dan teladan, diharapkan menunjukkan kebijaksanaan dalam bersikap, termasuk dalam merespons kritik. Ketika Prabowo mengatakan “ndasmu” dalam menanggapi kritik, ada kesan bahwa respons tersebut tidak mencerminkan etika komunikasi yang baik, terutama untuk seorang kepala negara.

Kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Rakyat berhak menyampaikan pendapat mereka terhadap kebijakan atau tindakan pemimpin. Seorang pemimpin yang bijaksana akan menjadikan kritik sebagai bahan refleksi dan sarana untuk memperbaiki kebijakan yang diambil. Merespons kritik dengan kata yang bernada merendahkan dapat memunculkan persepsi bahwa pemimpin tidak terbuka terhadap masukan, bahkan menunjukkan kecenderungan arogan.

Selain itu, ucapan seperti “ndasmu” bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan verbal yang merendahkan pihak lain. Dalam dunia politik, komunikasi memiliki peran penting, bukan hanya sebagai alat untuk menyampaikan kebijakan, tetapi juga sebagai cerminan dari kepribadian dan cara pandang seorang pemimpin. Kata-kata yang terkesan kasar atau meremehkan dapat menciptakan preseden buruk dalam komunikasi politik di Indonesia.

Sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dan ketiga tentang kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia, pemimpin seharusnya menjadi contoh dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Kata-kata yang kurang pantas bisa menciptakan jarak antara pemimpin dan rakyat, serta menurunkan kepercayaan terhadap kepemimpinan.

Di sisi lain, ada sebagian masyarakat yang menganggap ucapan Prabowo sebagai ekspresi spontan atau bentuk komunikasi yang lebih “membumi” dan apa adanya. Namun, sebagai seorang pemimpin negara, ada tanggung jawab besar dalam menjaga citra dan etika komunikasi.

Jika pemimpin membiasakan bahasa yang kasar atau tidak santun, hal itu bisa berdampak pada bagaimana masyarakat berinteraksi dan bagaimana politik dijalankan di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata, agar tidak hanya dihormati karena jabatannya, tetapi juga karena kebijaksanaan dan kedewasaannya dalam berkomunikasi.

Oleh: Untung Nursetiawan
Pemerhati Sosial Kota Pekalongan
______________________________________
Disclaimer: Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan MURIANETWORK.COM terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi MURIANETWORK.COM akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler