Kelompok Hamas memperingatkan bahwa para sandera Israel akan pulang dalam peti mati jika militer Zionis mencoba membebaskan mereka dengan paksa dan terus meluncurkan serangan udara di Jalur Gaza.
Kelompok perlawanan Palestina itu mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Mereka [anggota Hamas] melakukan segala yang mungkin untuk menjaga agar tawanan pendudukan tetap hidup, tetapi pengeboman acak Zionis [Israel] membahayakan nyawa mereka."
"Setiap kali pendudukan mencoba membebaskan tawanannya dengan paksa, mereka akhirnya membawa mereka pulang dalam peti mati," lanjut Hamas, seperti dikutip dari AFP, Kamis (27/3/2025).
Israel memulai kembali serangan udara yang intens di Jalur Gaza yang berpenduduk padat pada minggu lalu, diikuti oleh operasi darat, menghancurkan ketenangan relatif yang diberikan oleh gencatan senjata Januari.
Sejak Israel melanjutkan operasi militernya di Gaza, setidaknya 830 warga Palestina telah tewas, menurut kementerian kesehatan di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu memperingatkan Hamas bahwa Israel akan merebut wilayah di Gaza jika kelompok itu menolak untuk membebaskan para sandera.
Dari 251 sandera yang disandera selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang habis-habisan, 58 masih di antaranya ditahan di Gaza, termasuk 34 yang menurut militer Israel telah tewas.
"Semakin Hamas bersikeras menolak membebaskan sandera kami, semakin kuat tekanan yang akan kami berikan," kata Netanyahu kepada Knesset atau Parlemen Zionis.
"Saya sampaikan ini kepada rekan-rekan saya di Knesset, dan saya sampaikan juga kepada Hamas: Ini termasuk perebutan wilayah, bersama dengan tindakan lain yang tidak akan saya uraikan di sini," paparnya.
Pernyataannya muncul beberapa hari setelah Menteri Pertahanan Israel Katz mengancam akan mencaplok sebagian wilayah Gaza kecuali Hamas membebaskan sandera Israel yang tersisa.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Katz mengatakan: "Saya memerintahkan (tentara) untuk merebut lebih banyak wilayah di Gaza. Semakin Hamas menolak membebaskan para sandera, semakin banyak wilayah yang akan hilang, yang akan dianeksasi oleh Israel."
Serangan militer Israel telah menewaskan sedikitnya 50.183 orang di Gaza, sebagian besar warga sipil, sejak perang pecah 7 Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Tahap pertama gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Januari menyaksikan Hamas membebaskan 33 sandera Israel dan warga negara ganda, termasuk delapan orang yang tewas, dan Israel membebaskan sekitar 1.800 tahanan Palestina.
Sumber: okezone
Foto: Hamas memperingatkan bahwa para sandera Israel akan pulang dalam peti mati jika militer Zionis mencoba membebaskan mereka dengan paksa dan terus meluncurkan serangan udara di Jalur Gaza. Foto/Mehr News
Artikel Terkait
Ridwan Kamil Bongkar Rahasia Rumah Tangga Harmonis, Ekspresi Istrinya Curi Perhatian
Jokowi Belum Bisa Buktikan Ketokohan Besarkan Parpol
Gempa Myanmar Setara dengan 334 Ledakan Bom Atom, Ini Penyebabnya
Identitas Perebut Jersey Timnas Indonesia untuk Kenneth Diketahui PSSI, Bakal Dihukum Berat